Rabu, 31 Desember 2014

tips buat para LDR

Jurus Ampuh dan Jitu Untuk Kamu Yang LDR, Intip Deh!

ISENG2.Tha07
Jurus Ampuh dan Jitu Untuk Kamu Yang LDR, Intip Deh! 
 
  Kelak ketika kamu sudah beranjak dewasa, maka kamu akan mulai berpikir mengenai pasangan hidup. Yap, manusia yang beranjak dewasa memang mendamba bisa membentuk sebuah keluarga yang indah dan menghabiskan sisa umur dengan sosok tercinta.
Namun dalam proses mencari cinta itu, tak semua orang dikaruniai keberuntungan. Ada kalanya mereka harus berjuang lebih berat lagi soal cinta. Terutama mereka-mereka yang ditakdirkan menjalin hubungan cinta LDR (Long Distance Relationship) atau yang dikenal dengan Hubungan Jarak Jauh.
Menjalin asmara LDR itu bukan hal yang menyenangkan lho. Kamu bahkan harus siap dengan celotehan-celotehan jika mereka para pejuang LDR itu adalah jomblo yang diperhalus. Bosan dengan gunjingan itu? Mungkin sederet jurus ini bisa ampuh dan menguatkan hatimu yang sedang LDR. (kpl/aia)

1. Jangan Dengar Lagu Galau


Banyak sekali jenis lagu di Indonesia ini. Kebanyakan yang membicarakan tema cinta memang soal sakit hati dan perihnya tersakiti. Nah, lagu-lagu jenis seperti ini sebaiknya jangan pernah didengarkan oleh pejuang LDR. Karena pejuang LDR sejatinya adalah orang-orang dengan penampilan tangguh tapi hati rapuh. Jangan biarkan pejuang LDR terlalu sering mendengarkan lagu mengenai kerinduan karena bisa saja membuat mereka nangis sepanjang hari. Kalau kamu pejuang LDR, biasakan untuk mendengar lagu-lagu penuh semangat soal kesetiaan cinta. Tontonlah film mengenai bagaimana dua orang yang berbeda akhirnya bisa bersatu. Dengarkan petuah-petuah bijak bahwa kalau jodoh itu memang tak ke mana. (kpl/aia)

2. Perkuat Komunikasi


Hubungan LDR memang dibatasi oleh satu hal yakni jarak. Kamu tak akan bisa bebas berkencan dengan kekasihmu setiap hari karena perbedaan lokasi tempat tinggal. Untuk itu salah satu hal yang bisa membuat jarak terasa nol kilometer tanpa meminjam pintu ke mana saja Doraemon adalah dengan komunikasi yang rutin. Kamu punya hak untuk mengetahui seluruh jadwal kekasihmu di sana. Lalu menghubunginya saat baru bangun, siang hari, sore hari dan saat mau tidur. Memberinya pesan penuh semangat atau foto-foto narsismu di lokasi kerja maupun kampus adalah hal yang bisa membuat jarak serasa tak berarti. Kamu pun harus jujur kala kekasihmu bertanya kamu sedang Ada di mana dan bersama siapa. (kpl/aia)

3. Perbanyak Uang


Semua orang juga sudah tahu jika para pejuang LDR terhalang oleh jarak. Bahkan ada beberapa kasus kisah cinta LDR yang berbeda negara dan benua. Kalau begini, kamu harus makin rajin bekerja agar mendapatkan pemasukan banyak. Nantinya uang hasil jerih payahmu itu bisa kamu gunakan untuk menemui kekasihmu dan memberikan kejutan manis untuknya. Bayangkan saja kalau kamu di Trenggalek dan kekasihmu bekerja di London, Inggris. Maka uang untuk tiket pesawat akan mampu membuatmu mengelus dada. Meskipun begitu, rupanya perbedaan jarak ini bisa membuat kamu semakin termotivasi untuk mengumpulkan uang dengan penuh semangat demi berjumpa sosok terkasih.

4. Jangan Main Mata


Pahamilah betul wahai kalian pejuang LDR jika tantangan untuk menjaga komitmen lebih berat daripada pasangan biasanya. Kamu harus lebih bersemangat menjaga hatimu dan menguatkannya. Apalagi kala malam minggu melihat temanmu berkencan dan kamu hanya tidur di kamar. Rasanya memang pedih, tak heran kalau pejuang LDR kerap disebut sebagai sosok jomblo yang diperhalus. Namun sadarlah, usaha keras itu tak pernah mendapatkan hasil yang buruk. Kuatkan hati dan komitmen cintamu hanya untuk kekasihmu di sana. Memandang pria atau wanita yang lebih menawan memang tak bisa dihindari, hanya saja hentikan itu di sekilas pandang saja dan sadarkan dirimu kalau kamu melakukan itu, bisa saja kekasihmu nun jauh di sana juga melakukan hal serupa. Perih kan?

5. Banyak Doa


Ketika keempat jurus sebelumnya sudah kamu lakukan, maka ini adalah usaha terakhir yakni berdoa. Kamu harus memahami jika sekuat apapun kamu berjuang akan cinta, jika Tuhan menuliskan kamu tak ditakdirkan dengannya, maka kamu akan berpisah. Begitu pula jika kamu memang sudah berjodoh dengannya, LDR pun tak akan bisa memisahkan hubungan kalian. Untuk itu, perbanyaklah berdoa pada Tuhan dan siapkan hatimu kalau-kalau dia memang bukan untukmu. Ada satu hal bagi kamu calon kekasih di luar sana, pikirkan hal ini sebelum kalian memulai hubungan LDR adalah 'kalau ada yang lebih dekat, mengapa mencari yang jauh?' Yah apapun itu, semangat berjuang para pejuang LDR!
 
 Untuk berada di dunia ini, manusia butuh cinta. Apalagi bagi kamu generasi muda kekinian yang tengah beranjak remaja, kamu pasti akan mengenal cinta. Cinta pertama memang sangat indah. Namun seiring berjalannya waktu, kamu akan sadar kalau cinta butuh perjuangan. Yap, apalagi bagi kamu yang menjalin hubungan LDR (Long Distance Relationship) alias hubungan pacaran jarak jauh. Disebut LDR jika kamu dan kekasihmu tinggal minimal berbeda kota. Menjalin hubungan LDR jelas bukanlah sesuatu yang mudah. Kamu harus bisa menahan rasa rindu ingin berjumpa karena tinggal di tempat yang tak sama.
Namun tenang saja, LDR bukanlah akhir dari segalanya. Ada kalanya LDR bisa membawa bahagia meski memang cenderung banyak mudaratnya. Daripada sibuk bergalau ria, beri senyum kamu untuk meme kocak yang dipersembahkan khusus untuk mereka para pejuang LDR. Apakah kamu juga? 
@dhitya07


cara membaca ekspresi wajah seseorang

Cara Membaca Perasaan Lewat Ekspresi Wajah Seseorang



 


Jika Anda pernah mendengar istilah senyum palsu, di mana senyum mengembang di wajah namun tidak di hati, maka Anda harus tahu bahwa hal itu bukan sekedar istilah belaka. Anda bisa kok belajar membedakan mana senyuman yang tulus dan mana senyuman yang palsu. Membaca perasaan orang lain lewat mimik wajah bahkan tidak terlalu sulit. Anda hanya butuh memperhatikan gerak gerik dan perubahan gerakan wajah maka Anda bisa lebih waspada dan tahu bagaimana cara menghadapi orang lain.
Rahasia membaca perasaan lewat mimik wajah ini, sudah sejak lama dikenal dalam ilmu psikologi. Tidak sedikit pula orang yang menggunakannya saat wawancara kerja, atau mencari kandidat sebuah jabatan bergengsi.
Menurut leadingpersonality, ada beberapa mimik wajah yang bisa Anda perhatikan dan tahu apa makna di baliknya.

Senyuman palsu
Seperti sempat disebutkan tadi di atas, senyuman palsu itu yang bagaimana sih? Ciri senyuman tidak tulus ini menciptakan garis kerutan pada sudut bibir. Berbeda dengan senyuman yang tulus, yang akan menciptakan garis kerutan di sudut mata.

Mimik asimetris
Adalah ekspresi wajah yang berbeda antara wajah bagian kiri dan kanan, yang menunjukkan bahwa orang tersebut tidak berbicara hal yang sebenarnya.

Pupil yang membesar
Ketika ukuran pupil mata seseorang membesar, maka ia sedang menunjukkan sebuah ketertarikan, semangat, sedang memiliki mood yang baik.

Menutup mata saat berdiskusi
Ketika beberapa kali seseorang menutup mata seperti berusaha membayangkan sesuatu, orang tersebut sebenarnya sedang berusaha keras berpikir atau mengingat-ingat.

Terlalu sering berkedip
Hanya ada satu hal yang bisa terbaca apabila seseorang terlalu sering berkedip dan tanpa ritme, ia sedang berbohong.

Bibir sedikit terbuka
Ketika seseorang sedang berbincang dengan bibir sedikit terbuka, maka ia sedang merasa tertarik akan topik pembicaraan atau pada si pembicara.
Sekarang Anda bisa lebih berhati-hati dalam berbincang dengan orang lain. Tetap menjaga kesopanan dan kesantunan dalam berbahasa agar pertemanan terjalin di mana-mana.

HAPPY NEW YEAR 2015

Selasa, 23 Desember 2014

Istishab,,makalah ushul fiqh


MAKALAH
Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah “USHUL FIQH”
ISTISSHAB

Disusun oleh, kelompok 8 :      
      Alifah Adhitya Fajria          NIM: 131401500
                       Umar Hadi.                          NIM : 131401
                                              Yunindar Rifa’atul M.        NIM : 131401483

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
“SULTAN MAULANA HASANUDDIN” BANTEN
Jl. Jend. Sudirman No.30, Serang 42118 (0254) 200323 - 208849 ext 2030 Fax. 200022 2013/1434

BAB Il
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Al-quran dan hadis yang sampai kepada kita masih otentik dan orisinil. Orisinilitas dan otentisitas di dukung oleh penggunaan bahasa aslinya yakni bahasa arab karena al-quran dan hadis merupakan dua dalil hukum yakni petunjuk-petunjuk adanya hukum. Untuk mengetahui hukum-hukum tidak cukup dengan adanya petunjuk, melainkan perlu cara khusus untuk mengetahui atau memahaminya dari petunjuk-petunjuk itu , cara khusu itulah yang kita sebut metode. Ilmu untuk mengetahui cara itudisebut metologi.dasar-dasar ushul fiqh ini berisi tiga pokok bahasan yaitu ruang lingkup ushul fiqh, hukum syara’, dan sumber dalil atau hukum syara’.

B.     Rumusan Masalah
1.apa itu istishhab?
2. apa macam-macam/pembagian istishhab?
3. bagaimana pendapat ulama tentang istishhab?
4. bagaimana kehujjahan istishhab?
C. Tujuan
1. mengetahui apa itu istishhab
2. mengetahui  pembagian istishhab
3. mengahui pendapat ulama tentang istishhab
4. mengetahui kehujjahan istishhab

















BAB II
PEMBAHASAN
I.                   AL-ISTISHHAB
1.      ) Pengertian
Asyaukani menta’rifkan istishhab yaitu : “Tetapnya sesuatu hukum selama tidak ada yang mengubahnya”.
Jadi, hukum yang telah ditetapkan pada masa yang lalu terus berlaku sampai ada  Dalil lain dan merubah hukum tersebut. Atau sebaliknya apa yang tidak ditetapkan pada masa lalu, terus demikian keadaanya sampai ada dalil yang menetapkan hukumnya.
Contoh tentang Istishhab adalah sebagai beikut :
1.      Apabila telah jelas adanya pemilikan terhadap sesuatu harta karena adanya  bukti terjadinya pemilikan seperti karena membeli , warisan, hibbah, atau wasiat, maka pemilikan tadi terus berlangsung sehingga ada bukti-bukti lain yag menunjukkan perpindahan pemilikan pada orang lain.
2.      Orang yang hilang tetap dianggap hidup sehingga ada buku atau tanda-tanda lain yang menunjukkan bahwa dia meninggal dunia.
3.      Seorang yang telah menikah terus dianggap ada dalam hubungan suami-istri sampai ada bukti lain bahwa dia mennggal dunia.
Istishhab menurut harfiyah adalah mengakui adanya hubungan perkawinan. Sedangkan menurut ulama ushul adalah menetapkan sesuatu menurut keadaan sebelumnya sampai terdapat dalil-dalil yang menunjukkan perubahan keadaan, atau menjadikan hukum yang telah ditetapkan pada masa lampau secara kekal menurut keadaannya sampai terdapat dalil yang menunjukkan perubahannya.[1]
2.) Pembagian Istishhab
·         Istishab al-Bar’at al-ahliyyah
Menurut Ibnu al-Qayyim disebut Bar’at al-‘Adam Al-Ashliyah  sperti terlepasnya tanggung jawab dari segala taklif sampai ada bukti yang menetapkan taklifnya. Seperti anak kecil sampai dengan datangnya baligh. Tidak ada kewajiban dan hak antara seorang laki-laki dan seorang peempun yang bersifat pernikahan sampai adanya akad nikah.
·         Istishhab yang ditunjkkan oleh syara atau akal, seperti seorang harus tetap bertanggung jawab terhadap utang sampai ada bukti bahwa dia telah melunasinya.
·         Istishhab hukum seperti Sesutu telah ditetapkan dengan hukum mubah atau haram, maka hukum ini terus berlangsung sampai ada dalil` yang menghramkan yang asalnya mubah atau membolehkan yang asalnya haram. Dan yang asal dalam sesuatu (muamalah) adalah kebolehan “Al-ashlu fil asy-yaai al-ibahah” 
·         Al-istishhab washaf. Seperti keadaan hedupnya seseorang dinisbahkan kepada orang yang hilang. Prof. Muhammad Abu Zahrah menatakan: bahwa setiap Fuqaha menggunkan Istishhab dari macam a sampai c, sedang mereka berbeda pendapat, uama-lama syafi’iyah dan hanailah menggunakan Istishhab washaf secara mutlak dalam arti bisa menetapkan hak-ha yang telah ada pada aktu tertentu dan seterusnya seta bisa pula menetapkan hak-hak yang baru, sedangkan ulama malikiyah hanya menggunakan Istishhab washaf ini untuk hak-hak dan kewajiban yang telah  ada, sedang untuk hak-hak yang baru mreka tidak mau mmakainya. Conthnya: apabila seseorang dalam kadaan hidup meninggalkan kampung halamannya, maka orang ini oleh semua mazhab di anggap tetap hidup sampai ada bukti-bukti yang mennjukkan bahwa dia telah meninggal dunia, olh karena itu,tetap isrinya ada dalam tanggung jawabnya dan pemilikannya terhadap sesuatu tidak berubah apabila kemudian orang tua dari orang yang hlang ini meninggal dunia, maka menurt mlikiyah dan hanafiah: qayyim yaitu orang yang mengurus harta si mafkud tidak bisa meminta bagia warisan si mafkud atas dasarIstishhab, tetapi bagiannya dielihara sebagai amanat sehingga jelas ia tlah meninggal; sbaliknya yaitu apabia ahli waris si mafkud minta di bagi harta si mafkud, maka hal ini ditlak berdasarkan Istsishhab. Istishhab yang digunakan oleh ulama-ulama hanafiyah adalah li daf’I la li istba yaitu untuk menolak bukan untuk menetapkan
Para ulama yang mnyedikitkan turqul instinbat meluaskan penggunaan istishhab, misalnya golongan Dhahiri, karena mereka menolak penggunaan qiyas. Demikian pula mazhab syafi’I menggakan iatishhab karena tidak menggunakan istihsan. Oleh karena itu, yang sedikit menggunakan istishhab adalah Mazhab Hanafi dan Mazhab Maliki karena mereka meluaskan thurqul istinbath dengan penggunaan istihsan, mashlahah dan ‘urf, sehingga ruangan untuk beristirahat al-istishhab tinggal sedikit.    
Dalam buku yang lain (Dasar-dasar Ilmu Ushul Fiqh 1) menjelaskan macam-macam Istihhab antara lain:
a.       Istisshab al-bara’ah al-ashliyyah, menurut Ibn al-qayyim disebut Bar’at al-Adam al-ashliyyah seperti terlepasnya tanggung jawab dari segala taklif sampai ada bukti yang menetapkan taklifnya.
b.      Ishtishhab al-ibahah al-ashliyyah, yaitu istishhab yang berdasarkan atas huum asal dari sesuatu yang mubah. istishhab semacam ini banyak berperan dalam menetapkan hukum di bidang muamalah.landasannya adalah sebuah prinsip yang mengatakan hukum dasar darisesuatu yang bermanfaat boleh dilakukan dalam kehidupan sehari-hari selama tidak ada dalil yang melarangnya, sepertimakanan, minuman, hewan dll. Prinsip ini berdasarkan ayat 29 surat al-baqarah yang artinya:
“dialah Allah yang menjadikan segala yang ada dibumi untuk kamu.”
c.       Istishhab al-hukm
Yaitu Istishhab yang berdasarkan pada tepatnya status hukum  yang telah ada selam tidak ada sesuatu yang mengubahnya. Misalnya seseorang yang telah melakukan akad nikah akan selamanya terikat dalam jalinan suami istri sampaiada bukti yang menyatakan bahwa mereka telah bercerai.
d.      Istishab Wasaf
Setiap fuqaha menggunakan tiga macam Istishhab, sedang merek berbeda pendapat pada yang keempat. ‘ulama syafi’iyah dan hanbaiyah menggunakan Istishhab ini secara mutlaq.
Dalam arti bisa menetapkan hak-hak yang telah ada pada waktu tertentu dan seterusnya serta bisa pula menetapkan hak-hak yang baru.tapi untuk malikiyyah hanya menggunakan yang wasaf ini untuk hak-hak dan kewajiban yang telah ada.


II.      Pendapat ‘Ulama tentang Istishhab
‘Ulama Hanafiah menetapkan bahwa Istishhab merupakan Hujjah untuk menetapakan apa-apa yang di maksud oleh mereka. Jadi Istishhab merupakan ketetapan sesuatu yang  telah ada semula dan juga mempertahan sesuatu yang berbeda sampai ada dalil yang menetapkan atas perbedaannya.
III.   Kehujjahan Istishhab
Ahli ushul fiqh berbeda pendapat tentang kehujjahan istishhab ketika tidak ada dalilsyara’ yang menjelaskan, antara lain:
a.       Menurut mayoritas mutakallimin (ahli kalam) Istishhab tidak dapat di jadikan dalil, karena hukum yang ditetapkan pada masa lampau menghendaki adanya dalil. Demikian pula untuk menetapkan hukum yang sama pada masa sekarang dan masa yang akan datang, harus berdasarkan dalil.
b.      Menurut mayoritas ‘Ulama hanafiyah, khususnya muta’akhirin istishhab bisa dijadikan hujjah untuk menetapkan hukum yang telah ada sebelumnya dan menganggap hukum itu tetap berlaku pada masa yang akan datang, tetapi tidakbisa menetapkan hukum yang akan ada.
c.       ‘Ulama malikiyyah, syafi’iyah, hanabilah, zahriyyah dan syi’ah berpendapat bahwa istishhab bisa dijadikan hujjah secara mutlaq untuk menetapkan hukum yang telah adaselama belum ada dalil yang mengubahnya. Alasannya mereka adalah bahwa sesuatu yang tlahditetapkan pada masa lalu, selama tidak ada dalil yang mengubahnya baik secara qath’i maupun zhanni, maka hukum yang telah ditetapkan itu berlaku terus, karena diduga keras belum ada perubahannya.[2]
                                              BAB III
                                           PENUTUP
A.    Kesimpulan
 Pengertian istishhab
Asyaukani menta’rifkan istishhab yaitu : “Tetapnya sesuatu hukum selama tidak ada yang mengubahnya”.
Jadi, hukum yang telah ditetapkan pada masa yang lalu terus berlaku sampai ada  Dalil lain dan merubah hukum tersebut. Atau sebaliknya apa yang tidak ditetapkan pada masa lalu, terus demikian keadaanya sampai ada dalil yang menetapkan hukumnya.
Pembagian Istishhab
·         Istishab al-Bar’at al-ahliyyah
·         Istishhab al-hukm
·         Istishhab al ibahah al-ashliyah
·         Istishhab wasaf


B.     Kritik dan Saran
Demikian makalah ini kami selesaikan sebagai salah satu tugas perkuliahan pada semester tiga ini. Namun, kami dari kelompok 8 sebagai penyusun, menyadari terdapa kekurangan maupun kesalahan, baik dalam penyelesaian maupun pemaparam dari makalah kami ini.
Maka dari itu, kami sangat berharap dari para pembaca atau pendengar sekalian baik dari teman-teman maupun Bapak Dosen sebagai pembimbing dalam mata kuliah Ushul Fiqh ini, untuk turut serta dalam memberikan kritik yang membangu dan saran yang baik tentunya agar kedepannya nanti kami akan bisa menjadi lebih maju dan baik dari sebulumnya. Aamiin..ya rabbal ‘Alamiin..!






[1] Prof. Dr. Rachmat syafe’i,MA. Ilmu Ushul Fiqh ,(Bandung:Cv Pustaka Setia,2010), hal 125
[2] H. Masduki, M.A. Lembaga Penelitian  Hasanuddin Banten, Serang Banten, 2012

makalah kepemimpinan


contoh makalah pengantar manajemen

Judul : KEPEMIMPINAN


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ………………………………………………………………………… i
DAFTAR ISI ………………………………………………………………………………….. ii
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakag ………………………………………………………………………… 2
B.     Rumusan Masalah ……………………………………………………………………. 2
C.    Tujun Masalah ………………………………………………………………………... 2
BAB II PEMBAHASAN
A.    Pegertian Kepemimpinan…………………………………………………………….. 3
B.     Tipe Kepemimpinan…………………………………………………………………... 3
C.    Sifat-sifat Pemimpin…………………………………………………………………... 6
D.    Fungsi Kepemimpinan………………………………………………………………..  9
E.     Etika Profesi Pemimpin………………………………………………………………. 9
F.     Teori Lahirnya Kepemimpinan……………………………………………………… 10
G.    Tantangan Pemimpin…………………………………………………………………. 10
BAB III PENUTUP
A.    Kesimpulan………………………………………………………………………... 12
B.     Kritik dan Saran………………………………………………………………….. 12
Daftar Pustaka








BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
            Sudah menjadi hukum alam bahwa manusia adalah makhuk bermasyarakat, zoon politicion, yang merupakan salah satu cirri yang membedakannya dari makluk yang lain. Keinginan untuk bermasyarakat itu pada umumnya telah ada sejak manusia lahir. Keinginan itu smakin lama semakin besar dan luas sehingga lebih teratur, timbullah keperluan akan adanya seseorang yang bertindak mewakili semua anggota masyarakat utuk mempertahankan tata tertib yang telah ditentukan oleh masyarakat itu sendiri dan untuk mewakili kehendak semua anggota masyarakt itu. Olh karena iu, lahirlah institusi, yaitu pemimpin untuk mengatur dan mewakili masyarakat. Yatalah bahwa adanya pemimpin dan kepemimpinan di dalam suatu masyarakat, kelompok, atau golongan itu adalah hasil dan pembawaan masyarakat, kelompok atau golonan itu sendiri.
            Pemimpin di dalam masyarakat itu kemudian diberi gelar dan ama sesuai dengan adat istiadat dan tingkat kecerdasan masyarakatnya. Ada pemimpin yang dinamakan datuk, hulubalang, penghulu atau lainnya, yang berbeda-beda menurut masyarakat atau golongan itu sendiri. Akan tetapi, pada intinya adalah sama bahwa masyarakat memerlukan pemimpin yang lahir dari kandungan masyarakat itu sendiri. Jelaslah bahwa pemimpin dan kepemimpinan itu sudah ada sejak adanya manusia, yakni sejak manusia mengenal hidup berkelompok dan bermasyarakat. Ditambah lagi  bahwa pemimpin dan kepemimpinan dalah suatu lembaga tua, sama tuanya dengan sejarah manusia itu sendiri.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan kepemimpinan?
2.      Apa saja tipe kepemimpinan?
3.      Apa saja sifat-sifat dan fungsi pemimpin?
4.      Apa saja etika profesi pemimpin?
5.      Apa saja tantangan seorang pemimpin?

C.    Tujuan
1.      Untuk mengetahui pengertian kepemimpinan
2.      Untuk mengetahui tipe kepemimpinan
3.      Untuk mengetahui sifat-sifat dan fungsi pemimpin
4.      Untuk mengetahui etika profesi pemimpin
5.      Apa saja tantangan seorang pemimpin.



BAB II
 PEMBAHASAN
A.    PENGERTIAN KEPEMIMPINAN
            Sejarah kepemimpinan sama umurnya dengan sejarah manusia. Pemimpin dan kepemimpinan ada pada setiap zaman, sesuai dengan tingkat kecerdasan manusia, hanya cirri dan tingkat kecerdasan yang berbeda-beda¸ disamping perbedaan syarat-syarat yang harus di penuhi di dalam kepemimpinan itu, kepemimpina pada zaman Julius Caesar, Hannibal, dan Jenngis Khan dititikberatkan pada keberanian dan kemampuan fisik, sedangkan kepemimpinan pada aman sekarang ini lebih dititikberatkan pada kemampuan mental, intelektual, dan pengetahuan.    
            Di sini akan diberikan beberapa pengertian kepemimpinan menurut beberapa orang ahli. Akan tetapi, hendaklah slalu diingat bahwa idak ada defenisi yang sempurna. Definisi ang dikemukakan disini sekdar alat untuk memberkan cirri dan pegangan dalam penguraian selanjutnya.
            Prof. Dr. Sarwono Prawirodiharjo (1958) memberikan definisi sebagai berikut, “Leadership (kepemimpinan, pen) adalah tingkah laku untuk mempengaruhi orang lain agar kerjasamanya dalam mencapai suatu tujuan yang mnurut prtimbangannya adalah perlu dan bermanfaat.” Dari definisi itu jelas sekali terlihat bahwa peran seorang pemimpin adalah mempengaruhi orang lain, dalam hal ini mempengaruhi pengikut dan calon pengikutya, agar mereka memberikan kerjasama dan pengertiannya untuk membantu dan mendukung cita-citanya.
            Peterson dan Plowman mengatakan, “Psycological process for prviding guidance for followers, which satisfied a fundamenta human craving,”  (Kepemimpinan adalah suatu proses psikologi untuk melengkapi tuntutan engikutnya dan memuaskan hasrat dasar manusia).[1]


B.     TIPE KEPEMIMPINAN
Selanjutnya, ada kelompok sarjana lain yang membagi tipe kepemimpinan sebagai brikut:
·         Tipe Kharismatis.
·         Tipe paternalisis dan atrenalis.
·         Tipe militeristis.
·         Tipe otokratis/otoritatif (authorilative, dominatot).
·         Tipe laisser faire.
·         Tipe populistis.
·         Tipe administratif.
·         Tipe demokratis (group developer).

1.      Tipe Kharismatis
Tipe ini memiliki kekuatan energi, daya-tarik dan perbawa yang luar untuk mempengaruhi orang lain, shingga ia mempunyai pengikut yang sangat bsar jumlahnya dan pengawal-pengawal yang bisa dipercaya sampai sekarangpun orang tidak mengetahui benar sebab-sebabnya, mengapa seseorang itu memiliki charisma begitu besar. Dia dianggap mmpunyai kekuatan ghaib (supernatural power) dan kemampuan-kemampuan yang superhuman, yang diperolehnya sebagai karunia yang Maha Kuasa. Dia banyak memiliki inspirasi, keberanian, dan berkeyakinan teguh pada pendirian sendiri. Totalitas kepribadian pemimpinan itu emancarkan pengaruh dan daya-tarik yang teramat besar. Tokoh-tokoh besar semacam ini antara lain ialah: Jengis Khan, Hitler, Gandhi, John F. Kennedy, Sukarno, Magarete Tatcher, Gandhi, Gorbachev, dan lain-lain.

2.      Tipe Paternalistis
Yaitu tipe kepemimpinan yang kebapakan, dengan sifat-sifat antara lain sebagai berikut:
·         Dia menganggap bawahannya sebgai manusia yang tidak/belum dewasa, atau anak sendiri yang perlu dikembangkan.
·         Dia bersikap terlalu melindungi
·         Jarang dia memberikan kesempatan kepada bawahan untuk mengambil keputusan sendiri.
·         Dia hampir-hampir tidak pernah memberikan kesmpatan kepada bawahan untuk berinisiatif.
·         Dia tidak memberkan atau hampir-hampir tidak pernah memberikan kesempatan pada pengikut dan bawahan untuk mengembangkan kesempatan pada pengikut dan bawahan untuk mengembangkan imajinasi dan daya kreativitas mereka sendiri.
·         Selalu bersikap maha-tahu dan maha-benar.
Selanjutnya tipe kepemimpinan yang maternalistis juga mirip dengan tipe yang paternalistis, hanya degan perbedaan; adanya sikap over-protective atau terlalu melindungi yang lebih menonjol, disertai kasih sayang yang berlebi-lebihan.
3.      Tipe militeristis
Tipe ini sifatnya sok kemiliter-militeran. Hanya gaya luaran saja yang mencontoh gaya militer. Tetapi jika dilihat lebih seksama, tipe ini mirip sekali dengan tipe kepemimpinan otoriter. hendaknya dipahami, bahwa tipe kepemimpinan militerasi itu berbeda sekali dengan kepemimpinan organisasi militer (seorang tokoh militer). Adapun sifat-sifat pemimpin yang militeristis antara ain ialah:
·         Lebih banyak menggunakan system perintah/komando terhadap bawahannya; keras angat otoriter; kaku dan sering kali kurang bijaksana.
·         Menghendaki kepatuhan mutlak dari bawahan.
·         Sangat menyenangi formalitas, upacara-upacara ritual dan tanda-tanda kebearan yang berlebih-lebihan.
·         Menuntut adanya disiplin keras dan kaku dari bawahannya (disiplin cadaver/mayat).
·         Tidak menghendaki saran, usul, sugesti, dan kritikan-kritikan dari bawahannya.
·         Komunikasi hanya berlangsung searah saja.


4.      Tipe otokratis
Otokrat berasal dari perkataan autos=sendiri; dan kratos= kekuasaan, kekuatan. Jadi, otokrat berarti=penguasa absolute.
Kepemimpinan otokratis itu mendasar diri pada kekuasaan dan paksaan yang mutlak hars dipatuhi. Pemimpinnya selalu mau berperan sebagai pemain tunggal pada a one-men show. Dia berambisi sekali untuk merajai situasi. Setiap perintah da kebijakan ditetapkan tanpa berkonsultasi dengan bawahannya. Anak buah tidak pernah diberi informasi mendetail mengenai rencana dan tindakan yang harus dilakukan. Semua pujian dan kritik terhadap segenap anak buah diberikan atas pertimbangan pribadi pemimpin sediri.

5.      Tipe laissez faire
Pada tipr kepemimpinan laissez faire ini sang pemimpin praktis tidak memimpin; dia membiarkan kelompoknya dan setiap orang berbuat semau sendiri. Pemmpin tidak berpartisipsi sedikitpun dalam kegiatan kelompoknya. Semua pkerjaan dan tanggung jawab harus dilakukan oleh bawahan sendiri.dia merupkan pemimpin symbol, dan biasanya tidak memiliki keterampilan teknis. Sebab duduknya sebagai Direktur atau pemimpin-Ketua Dewan, komandan, kepala biasanya diperolehnya melalui penyogokn, suapan atau berkat system nepotisme.

6.      Tipe populistis
Professor Peter Worsley dalam bukuya The Third World mendefinisikan kepemimpinan populistis sebagai: kepemimpinan yang dapat membangunkan solidartas rakyat, misalnya SUKARNO denga ideology marhaenismenya, yang menekankan masalah kesatuan nasional, nasionalisme dan sikap yang berhati-hati erhadap kolonialisme dan penindasan, penghisapan serta penguasaan oleh kekuatan-keuatan asing (luar negeri).


7.      Tipe Administratif atau Eksektif
Kepemimpinan tipe ini ialah kepemimpinan yang mampu menyelenggarakan tugas-tugas administratifsecara efektif.sedangkan para pemimpina terdiri dari teknokrat dan administrator-administratur yang mampu menggerakkan ddinamika modernisasi dan pembangunan. Dengan demikian dapat dibangun system administrasi dan birokrasi yang efesien untk memerintah; yaitu untuk memantapkan integritas bangsa pada khususnya, dan usaha pembangnan pada umumnya. Dengan kepemimpinan administratif  ini diharapkan adanya prkembangan teknis yaitu teknologi, industry, manajemen modern dan perkembangan social di tengah masyarakat.

8.      Tipe Demokratis
Kepemimpinan demokratis berorientasi pada manusia, dan memberikan bimbigan  yang efesien kepada pengikutnya. Terdapat koordinasi pekerjaan pada semua bawahan, dengan penekanan pada rasa tanggung jawab internal(pada diri sendiri) dan kejasama yang baik. Kekuatan kepemimpinan demokratis ini bukan terletak pada “person atau individu pemimpin”, akan tetapi kekuatan justru terletak pada partisipasi aktif dari setiap warga kelompok.
Kepemimpnan demokratis biasanya berlangsung secara mantap, dengan adanya gejala-gejala sebagai berikut:
a.       Organisasi dengan segenap bagian-bagiannya berjalan lancer, sealip pemimpin tersebut tidak ada di kantor.
b.      Otorits sepenuhnya didelegasika ke bawah, dan masing-masing orang menyadari tugas serta kwajibannya; sehingga mereka merasa senang-puas, danaman menyandang setiap tugas kewajibannya.
c.       Diutamakan tujuan-tujuan kesejahteraan pada umumnya dan kelancaran kerjasama dari setiap warga kelompok.
d.      Dengan begitu pemimpin demokratis berfungsi sebagai kaalisator untuk mempercepat dinamisme dan kerjasama, demi pencapaian tujuan organisasi dengan cara yang paling cocok dengan jiwa kelompok dan situasinya.


C.    SIFAT-SIFAT PEMIMPIN
Upaya untuk menilai sukses atau gagalnya pemimpin itu antara lain dilakukan dengan mengamati dan mencatat sifat-sifat dan kualitas/mutu perilakunya, yang dipakai sebagai criteria untuk menilai kepemimpinannya. Usaha-usaha yang sistematis tersebut membuahkan teori yang disebut sebagai the traitist theory of leadership (teori sifat/kesifatan dari kepemimpinan). Di antara para penganut teori ini dapat kita sebutkan Ordway Tead dan Geoge R. Terry.

Ordway Tead dalam tulisannya mengemukakan 10 sifat yaitu sebagai berikut:
1.      Energi jasmaniah dan mental (physical andnervous energy)
Hampir setiap pribadi pemimpin memiliki teaga jasmani dan rohani yang luar biasa; yaitu mempunyai daya tahan, keultan, kekuatan, atau tenaga yang istimewa yang tampaknya seperti tidak akan pernah hais. Hal ini ditambah denga kekuatan-kekutan mntal berupa smangt juang, motivasi krja, disiplin, kesabaran, keuletan, ketahanan batin, dan kemauan yang luar biasa untuk mengatasi semua permasalahan yang dihadapi.

2.      Kesadaran akan tujuan dan arah(a sense of pupose and direction)
Ia memiliki keyakinan yang teguh akan kebenaran dan kegunaandari semua perilaku yang dikerjakan; dia tahu persis kemana arah yang akan ditujunya; serta pasti memberikan kemanfaatan bagi diri sendiri maupun bagi kelompok yang dipimpinnya. Tujuan tersebut harusdisadari bena, menarik, dan sangat berguna bagi pemenuhan kebutuhan hidup bersama.

3.      Antusiasme (ethusisasm; semangat, kegairahan, kegembiraan yang besar )
Pekerjaan yang dilakukan dan tujuan yang akan dicapai itu hrus sehat, berarti, bernilai, memberikan harapan-harapan yang menyenangkan, memberikan sukses, dan menimbulkan smangat serta esprit de corps. Semua ini embangkitkan antusiasme, optimisme, dan semangat besar pada pribadi pemimpin maupun para anggota kelompok. 

4.      Keramahan dan kecintaan (friendliness and affection)
Affection ituberarti kessayanga, kasih sayang, cinta, simpati yang tulus, disertai kesediaan berkorban bagi pribadi-pribadi yang disayangi. Sebab pemimpin ingin membuat mereka senang, bahagia, dan sejahtera. Maka kasih sayang dan dedikasi pemimpin bisa menjadi tenaga penggerak yang positif untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang  menyenangkan  bagi semua pihak. 

5.      Integritas (integrity, keutuhan; kejujuran, ketulusan hati )
Pemimpin itu harus bersifat terbuka; merasa utuh bersatu, sejiwa dan seperasan dengan anak buahnya; bahkan merasa senasib dan sepenanggungan dalam satu perjuangan yang sama. Karena itu dia bersedia memberikan pelayanan dan pengorbanan kepada pengikutnya. Sedangkankelompok yang dituntutmenjadi semakin percaya dan semakin menghormati pemimpinnya.
Denga segala ketlusan hati dan kejujuran, pemimpin memberikan ketauladanan, agar dia dipatuhi dan diikuti oleh anggota kelompoknya
.
6.      Pengasaan teknis (technical mastery).
Setiap pemimpin harus memiliki satu atau beberapa keahiran teknis tertentu, agar ia mempunyai kewibawaan dan kekuasaan untuk memimpin kelompoknya. Dia menguasai pesawat-psawat mekani tertentu, serta memiiki kemahiran-kemahira social untuk memimpin dan memberikan tuntunan yang tepat serta bijaksana. Terutama teknik untuk mengkoordinasi tenaga manusia, agar trcapai maksimilisasi efektivitas kerja dan produktivitsnya
.
7.      Ketegasan dalam mengambil eputusan (decisivenses)
Pemimpin ang berhasil itu pastidapat mengambil keoutusan secara tepat, tegas dan cepat, sebagai hasil dari kearifan dan pengamalannya. Selanjutya dia mampu meyakinkan para angotanya akan kebenaran keputusannya, ia berusaha agar para pengikunya bersedia mendukung kebijakan yang telah diambilnya. Dia harusmenampilkan ketetapan hat dan tanggung jawab, agar ia selalu dipatuhi oleh bawahannya.

8.      Kecerdasan (intelligence).
Kecerdasan yang perlu dimiliki oleh setiap pemimpin itu merupakan kemampuan untuk melihat dan memahami dengan baik, mengerti sebab dan akibat ejadian, menemukan hal-hal yang krsial; dan cepat menemukan cara penyelesaiannya dalam waktu singkat.  

9.      Keterampilan mengajar (teaching skill).
                   Pemimpin yang baik itu adalah seorang guru pula. Yang mampu menuntun, mendidik, mengarahkan, mendorong (memotivasi), dan menggerakkan anak buahnya untuk berbuat sesuatu. Di samping menuntun dan mendidik “muridnya” , dia mengharapkan juga menjadi pelaksana eksekutif untuk mengadakan latihan-latihan, mengaasi pekerjaanrutin setiap hari, dan menilai gagal atau suksesnya satu proses atau treatment. Ringkasnya, dia juga harus mampu menjadi manejer yang baik.  
 
10.  Kepercayaan (faith).
Keberhaslan pemimpin iu pada umumnya selalu didukug oleh kepercayaan anak buahnya. Aitu kepercayaan bahwa para anggota pasti dipimpin dengan baik, dipengaruhi secra positif, dan diarahkan ada sasaran-sasaran yang benar. Ada kepercayaan bahwa pemimpin bersama-sama dengan anggota-anggota kelompoknya secara bersama-sama rela berjuang untuk mencapai tujuan yang bernilai.


D.    FUNFSI KEPEMIMPINAN
 Fungsi kepemimpinan adalah : memandu, menuntun, membimbing, membangun, member, atau membagunkan motivasi-mtivasi kerja, mengemudikan organisasi, menjalin jaringan-jaringan komunikasi yang baik; memberikan supervise/ pengawasan yang efeien, dan membawa para pengikunya kepada sasaran yang ingin dituju, sesuai dengan ketentuan waktu dan perencanaan.


E.     ETIKA PROFESI PEMIMPIN
Paul E. Torgese daalam bukunya “management, an integrated approach” menyatakan profesi sebagai: satu lapangan kegiatan didalamnya terdapat lima criteria, yaitu:
Ø  Pengetahuan
Ø  Aplikasi yang kompeen
Ø  Tanggung jawab social
Ø  Pengontrolan diri
Ø  Sanksi masyarakat
Berdasarkan criteria di atas, profesi kepemimpinan harus dilandaskan pada paham dasar yang mencerminkan nilai-nilai kemanusiaan luhur, yang dijadikan pedoman bagi setiap pribadi pemimpin. Terutama sekali ialah:
Ø  Nilai pegabdian pada kepetingan umum.
Ø  Jaminan keselamatan, kebaikan dan kesejahteraan bagi bawahan dan rakyat.
Ø  Menjadi pengikat dan pemersatu dalam segala gerak upaya.
Ø  Penggerak/dinamisatot dari setiap kegiatan.
Etika profesi kepemimpinan itu mengandung criteria sebagai berikut:
1)      Pemimpin harus memiliki satu atau beberapa kelebihan dalam pengetahuan, keterampilan social, kemahiranteknik, serta pengalaman;
2)      Sehingga dia kompeten melakukan kewajiban dan tugas-tugas kepemimpinannya
3)      Ampu bersikap susila dan dewasa. Sehingga dia selalu bertanggung jawab secara etis/susila, mampu membedakan hal-hal yang baik dari yang burk, memiliki tanggung jawab social yang tinggi.
4)      Memiliki emampuan mengontrol diri: yaitu mengontrol pikiran, emosi, keinginan, dan segenap perbuatannya, disesuaikan dengan norma-norma kebaikan.
5)      Selalu melandaskan diri pada nilai-nilai etis.
6)      Dikenai sanksi. Oleh adanya norma; perintah, dan larangan yang harus ditaati olh pemimpin demi kesejahteraan hidup bersama dan demi efesiensi organisasi, maka segenap tindakan dan kesalahan pemimpin itu dikontrol.jadi ada control diri dan control social. Karena itu kesalahan-kesalahan harus segera dibetulkan; pelanggaran-pelanggaran dihukum dan ditindak dengan tegas.[2]

F.     TEORI LAHIRNYA KEPEMIMPINAN

O,Tead mengemukakan tiga macam kepemimpinan dilihat dari sudut lahir dan berkembangnya kepemimpinan itu.
1.      Seseorang menjadi pemimpin dengan jalan membentuk dirinya sendiri.
2.      Seseorang menjadi pemimpin dengan jalan dipilih oleh pengikutnya.
3.      Seseorang menjadi pemimpin dengan jalan ditunjuk dari atas atau dari lembaga tertinggi dengan mtengatakan, “inilah pemimpin kamu!”
Dalam kenyataannya, ketiga acam kepemimpinan itu saling erat ubungan, dan ini juga sangat bergantng pada bentuk kepemimian yang bagaimana yang diamati.
1.      Pemimpin yang Membentuk Dirinya Sendiri
Banak lembaran sejarah yang dihiasi dengan sejarah orang-orang besar yang berhasil dngan gemilang dan penuh dengan kemegahan karena hasilnya sendiri, hasil membentuk dirinya sndiri.melalui jurang dan lembah penderitaan, ia akhirnya tampil kemuka untuk menjadi pemimpin yang kawakan dan disegani, baik oleh kawan maupun lawan.
2.      Pmimpin yang Dipilih oleh Pengikutya
Pemimpin yang dilahirkan melalui pemilihan banyak dilakukan, bahkan merupakan cirri kepemimpinan pada abad modern ini. Kepemimpinan ini telah dikenal sejak zaman dahulu, lau berkembang sesuai dengan perkembangan system demokrasi, yang menjadi sendi kehidupan dunia pada abad ini.
3.      Pemimpin yang Ditunjuk dari Atas
Dalam pelaksanaannya , banyak pemimpin yang ditunjuk dari atas, khususnya dalam kepemimpinan eksekutif di pemerintahan dan Angkatan Bersenjata. Penunjukkan ini berdasarkan norma-norma kepegawaian dan peraturan-peraturan yang ada, seperti konduite, pengalaman, dan pendidikan.

G.    TANTANGAN KEPEMIMPINAN   
 Agar bangsa Indonesia mampu menghadapi berbagai persoalan besar dan kompeks di era global, sesungguhnyalah bangsa yang besar ini membutuhkan kepemimpinan yang kuat dan tagguh. Dengan kepemimpinan yang kuat dan tangguh, diharapkn bisa menghantarkan masyarakat dan bagsa indoesia memasuki mienium ketiga, yang sarat dengan berbagai tantangan ini. Setidaknya a alma hal penting dan strategis, yang menjadi tantanga dalam kepemimpinan di masa depan.
Pertama, tantangan globalisasi. Ini merupakan tantangan paling serius dan berat yang menuntut kesiapan secara baik, utamanya kesiapan  sumbe daya manusia yang berkulitas dan kemampuan daya saing nasional. Kita ketahui bersama bahwa era globaltelah membuka peluang-peluang baru terutama di bidang ekonomi, yang bila dimanfaatkan dengan baik akan membawa pengaruh positif  bagi prospek pertumbuhan konomi nasional.
Kedua, tantangan menjaga integrasi bangsa. Abad ke-21 telah melahirkan berbagai kecenderungan global, antara lain, menguatnya identitas enis dan budya di setiap kelompok masyarakat dan unit-unit social, yang masing-masing memiliki watak egosentrisme.
Ketiga, tantangan memperkukuh wawasan kebangsaan. Era global membawa implikasi dan dampak yang amat luas terhadap realitas khidupan kehidupan bangsa kita. Interaksi antarbangsa berlangsung intensif dan terbuka, telah membuka peluang untuk saling melakukan penetrasi nilai-nilai budaya.
Keempat, tantangan membangun masyarakat berpengetahuan. Tantangan ini sangat penting, serius dan berat terutama dikaitkan dengan tigkat kemajuan iptek yang amat tinggi. Membangun masyarakat berpengetahuan adalah membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya mempunyai visi dan wawasan iptek sebagai bekal untuk menghadapi abad ke-21.
Kelima, tantangan keterbukaan dan demokratisasi. Kita memahami sepenuhnya bahwa isu keterbukaan dan demokritisasi telah menjadi kecenderungan global, dan merpakan arus sosiologis yang tidak mngkin bisa dibendungi.[3]






BAB III
PENUTUP
1.    KESIMPULAN
Ø  PENGETIAN KEPEMIMPINAN
Prof. Dr. Sarwono Prawirodiharjo (1958) memberikan definisi sebagai berikut, “Leadership (kepemimpinan, pen) adalah tingkah laku untuk mempengaruhi orang lain agar kerjasamanya dalam mencapai suatu tujuan yang mnurut prtimbangannya adalah perlu dan bermanfaat.” Dari definisi itu jelas sekali terlihat bahwa peran seorang pemimpin adalah mempengaruhi orang lain, dalam hal ini mempengaruhi pengikut dan calon pengikutya, agar mereka memberikan kerjasama dan pengertiannya untuk membantu dan mendukung cita-citanya.
            Peterson dan Plowman mengatakan, “Psycological process for prviding guidance for followers, which satisfied a fundamenta human craving,”  (Kepemimpinan adalah suatu proses psikologi untuk melengkapi tuntutan engikutnya dan memuaskan hasrat dasar manusia).[4]
Ø  TIPE KEPEMIMPINAN
Selanjutnya, ada kelompok sarjana lain yang membagi tipe kepemimpinan sebagai brikut:
·         Tipe kharismatik
·         Tipe paternalisis dan atrenalis.
·         Tipe militeristis.
·         Tipe otokratis/otoritatif (authorilative, dominatot).
·         Tipe laisser faire.
·         Tipe populistis.
·         Tipe administratif.
·         Tipe demokratis (group developer).

Ø  FUNFSI KEPEMIMPINAN
 Fungsi kepemimpinan adalah : memandu, menuntun, membimbing, membangun, member, atau membagunkan motivasi-mtivasi kerja, mengemudikan organisasi, menjalin jaringan-jaringan komunikasi yang baik; memberikan supervise/ pengawasan yang efeien, dan membawa para pengikunya kepada sasaran yang ingin dituju, sesuai dengan ketentuan waktu dan perencanaan.

Ø  ETIKA PROFESI PEMIMPIN
Paul E. Torgese daalam bukunya “management, an integrated approach” menyatakan profesi sebagai: satu lapangan kegiatan didalamnya terdapat lima criteria, yaitu:
      -Pengetahuan
-Aplikasi yang kompenen     -pengontrolan diri
-Tanggung jawab social         -sanksi masyarakat
                                                        
2.      Kitik dan Saran
Demikian makalah ini kami selesaikan sebagai salah satu tugas perkuliahan pada semester tiga ini. Namun, kami dari kelompok 11sebagai penyusun, menyadari terdapa kekurangan maupun kesalahan, baik dalam penyelesaian maupun pemaparam dari makalah kami ini.
Maka dari itu, kami sangat berharap dari para pembaca atau pendengar sekalian baik dari teman-teman maupun Ibu Dosen sebagai pembimbing dalam mata kuliah Pengantar Manajemen ini, untuk turut serta dalam memberikan kritik yang membangu dan saran yang baik tentunya agar kedepannya nanti kami akan bisa menjadi lebih maju dan baik dari sebulumnya. Aamiin..ya rabbal ‘Alamiin..!




.









                                                            DAFTAR PUSTAKA
Kartono, Kartini. 1998. “Pemimpin dan Kepemimpinan”.Jakarta:PT. Raja Grafindo Persada
        Edisi September 1998.
Effendi, Mochtar. “Kepemimpinan”. Palembang:Yayasan Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan 
             Islam Al-Mukhtar. Edisi kedua 1997.


[1] Dr. H. Mochtar Effendy, S.E,  Kepemimpinan, (Palembang:Yayasan Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan Islam Al-Mukhtar, 1997), hal 13-14.
[2] Dr. Kartini Kartono. PT Raja Grafindo Persada,  Jakarta cet.kedelapan, 1998
[3] Ginanjar Kartasasmita. Pelantikan Perwira TNI AU, Jakarta 1997
[4] Dr. H. Mochtar Effendy, S.E. Yayasan Pendidikan dan Ilmu Islam Al-Mukhtar, Palembang cet.kedua, 1997